Srikandi Ibu Pertiwi Sang Protektor Hutan

Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada tanggal 8 Maret bukan hanya menjadi suatu simbol, melainkan juga merupakan suatu pembuktian bahwa eksistensi perempuan di muka bumi ini memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan.

Tidak hanya melahirkan generasi dan juga peradaban, tetapi perempuan juga memiliki banyak peranan di dalam penjagaan lingkungan hidup, khususnya hutan.

Menurut catatan sejarah, sejak masa awal peradaban, perempuan pada prinsip fundamentalnya telah memberikan kontribusi kepada konservasi, penggunaan, serta pengelolaan sumber daya alam.

Prinsip ini masih pertahankan eksistensinya oleh segelintir perempuan yang ada di Indonesia, untuk terus menginspirasi manusia-manusia di sekeliling mereka untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan tempat tinggal.

Perilaku menjaga lingkungan memang sudah seharusnya dilakukan. Sebab apabila ditinjau melalui ilmu Ekologi, terminologi ekosistem pada definisi esensialnya bisa disimpulkan bahwa manusia dan lingkungan adalah suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Berikut merupakan rangkuman dari kisah beberapa srikandi ibu pertiwi yang berjuang untuk mempertahankan hutan di daerah tempat tinggal mereka.

1. Srikandi Ibu Pertiwi di daerah Teluk Youtefa, Papua

Perempuan-perempuan yang bermukim di daerah Teluk Youtefa, Jayapura, Papua, memiliki keunikan adat di mana pada daerah tersebut, ada hutan bakau yang disebut sebagai Hutan Perempuan.

Hutan tersebut memiliki hamparan bakau yang melimpah-ruah, telah dijaga dan dirawat eksistensinya oleh para perempuan dengan kearifan lokal secara turun-temurun. Para srikandi ibu pertiwi yang terlibat di dalam pelestarian dari Hutan Perempuan itu adalah perempuan-perempuan Enggros dan Tobati.

BBC Indonesia, 2021. Hutan Perempuan dan latar belakang Jembatan Youtefa. [image] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56269816> [Accessed 11 March 2021].

Srikandi di daerah Enggros dan Tobati memiliki suatu tradisi, yang disebut sebagai Tradisi Tonotwiyat. Tonot bermakna hutan bakau, sedangkan wiyat berarti ajakan. Jadi, Tradisi Tonotwiyat adalah kearifan lokal yang dimiliki oleh perempuan-perempuan di Enggros dan Tobati untuk pergi ke hutan bakai ketika air laut sedang surut secara bersama-sama.

Menurut wawancara yang dilakukan oleh BBC Indonesia, Mama Ani — salah satu srikandi ibu pertiwi yang masih aktif terlibat dalam melaksanakan Tradisi Tonotwiyat — memberikan keterangan bahwa tradisi tersebut dikhususkan hanya untuk perempuan.

Hal tersebut disebabkan oleh adanya salah satu elemen di dalam Tradisi Tonotwiyat yang mengajak perempuan untuk mencari kerang dengan sebelumnya menanggalkan pakaian mereka. Sembari mencari kerang, perempuan-perempuan saling mencurahkan isi hatinya satu sama lain dan mendengar burung-burung yang berkicau. Sejak zaman nenek moyang, hanya perempuan yang boleh memasuki Hutan Perempuan — dan ada kekuatan mistik di dalamnya.

Kaum laki-laki diperbolehkan masuk Hutan Perempuan untuk mengambil kayu demi keperluan rumah tangga, ketika tidak ada kaum perempuan di dalamnya. Namun, ketika ada perempuan, laki-laki dilarang untuk memasuki Hutan Perempuan.

Dan apabila melanggar, laki-laki tersebut diberikan sanksi berupa denda adat. Denda tersebut berupa manik-manik, yang eksistensinya di daerah Enggros dan Tobati memiliki nilai tukar yang cukup fantastis.

BBC Indonesia, 2021. Mama Ani khawatir semakin sedikit generasi muda perempuan Enggros dan Tobati yang peduli dengan Hutan Perempuan. [image] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56269816> [Accessed 11 March 2021].

Menurut keterangan yang diberikan oleh Mama Ani, beliau menyayangkan bahwa saat ini, semakin sedikit perempuan di daerah Enggros dan Tobati yang mempertahankan tradisi tersebut.

Hal ini dipengaruhi oleh adanya perkembangan teknologi, serta banyaknya perempuan di daerah Enggros dan Tobati yang lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan dibandingkan melestarikan kebudayaan.

Padahal, melanjutkan pendidikan dan melestarikan kebudayaan adalah suatu hal yang bisa dilakukan secara selaras demi kebermanfaatan yang lebih luas.

Kekayaan Hutan Perempuan yang memiliki bakau yang subur dan melintang merupakan suatu kearifan lokal yang sudah seharusnya dijaga dan dipertahankan eksistensinya.

Perkembangan zaman, teknologi, dan pendidikan tidak seharusnya dijadikan batu sandungan untuk menjaga potensinya. Justru segala kemajuan itu bisa kita ambil nilai kebermanfaatannya untuk bisa diimplikasikan ke dalam proses pelestariaannya.

Sebab hutan adalah bagian dari bumi, bumi adalah rumah kita, kita adalah bagian dari bumi, dan bumi ini butuh aksi.

2. Srikandi Ibu Pertiwi Penjaga Hutan dari Aceh

Sekelompok ibu di wilayah Kabupaten Bener Meriah, Aceh, menjadi penjaga hutan. Metode mereka adalah dengan berpatroli keluar-masuk hutan, menangkap basah perambah dan pelaku penebangan liar yang acap kali berlalu-lalang di hutan daerah mereka.

Selama proses berpatroli, sekelompok ibu tersebut harus menghadapi rintangan seperti medan curam, permukaan terjal, serta batu-batuan besar di dalam hutan Kawasan Ekosistem Leuser.

Aksi sekelompok ibu ini mereka lakukan atas dasar faktor ekonomi, sebab setiap kali bertugas untuk patrol ke dalam hutan, mereka akan mendapatkan imbalan Rp 100.000 per orang. Selain faktor ekonomi, sekelompok ibu ini juga bersedia menjadi hutan ranger karena alasan menjaga pasokan air bagi kaum perempuan di desa mereka.

BBC Indonesia, 2020. Sekelompok ibu di Kabupaten Bener Meriah, Aceh menjadi penjaga hutan alias ranger. [image] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/majalah-55300012> [Accessed 11 March 2021].

Menurut wawancara yang diliput oleh tim dari BBC Indonesia, sekelompok ibu tersebut memberikan keterangan bahwa kurang lebih ada 251 hektare area hutan lindung yang menjadi tanggung jawab mereka. Selain itu, mereka juga ditugaskan untuk menjaga Daerah Aliran Sungai (DAS) Wih Gile yang menjadi sumber mata air untuk enam desa tetangganya.

BBC Indonesia, 2020. DAS Wih Gile. [image] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/majalah-55300012> [Accessed 11 March 2021].

Alasan fundamental ditugaskannya para srikandi ibu pertiwi untuk menjaga hutan ini adalah sebab para perambah dan penebang hutan liar lebih bisa mendengarkan teguran mereka. Apabila para bapak yang menegur, maka situasi akan memanas.

Aksi para srikandi ibu pertiwi dalam menjaga hutan ini dikuatkan eksistensinya oleh Lembaga Pelindung Hutan Kampung Mpu Uteun, yang tak terlepas pula dari bantuan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh.

Yayasan bisa merasakan semangat warga Desa Damaran Baru dalam melarang perambah hutan atau pelaku penebangan liar selama ini, tetapi tidak memiliki kekuatan finansial dan hukum. Dengan adanya dukungan dari lembaga dan yayasan, para srikandi ibu pertiwi ini diharapkan bisa memaksimalkan aksi mereka untuk selalu melestarikan keasrian hutan.

Sebagai generasi masa kini, perlu kita acungkan jempol untuk para srikandi ibu pertiwi ini karena ingin berkontribusi untuk melestarikan alam sekitarnya.

Sebab hutan adalah bagian dari bumi, bumi adalah rumah kita, kita adalah bagian dari bumi, dan bumi ini butuh aksi.

3. Farwiza Farhan : Srikandi Ibu Pertiwi Pelindung Hutan Hujan

Farwiza Farhan adalah seorang aktivis lingkungan yang juga sarjana dari jurusan Biologi Kelautan. Sejak tahun 2012, Farwiza menggawangi Yayasan HAkA, sebuah yayasan nirlaba yang memperjuangkan hak alam atas perusahaan minyak kelapa sawit yang melakukan pembalakan hutan secara ilegal.

Dilatarbelakangi oleh kecintaannya terhadap alam, Farwiza ingin mendeklarasikan pada dunia, khususnya Indonesia, bahwa kekayaan yang terkandung di dalam hutan hujan tropis di wilayah Taman Nasional Gunung Leuser adalah suatu hal yang amat berharga.

BBC Indonesia, 2018. Farwza farhan berjuang mempertahankan keanekaragaman hayati hutan Sumatera. [image] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46252168> [Accessed 11 March 2021].

Menurut wawancara yang diliput oleh tim BBC Indonesia, Farwiza mengatakan, “Di dalam hutan hujan tropis ini, Anda bisa melihat orang utan, ibu dan bayinya, bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya. Selain itu, Anda juga bisa melihat kera ekor panjang yang berteriak-teriak.

Namun, dari momen ke momen, Anda juga bisa menikmati kesunyian hutan, di mana Anda tidak mendengar apapun, sebelum suara-suara itu kembali menghidupkan hutan — gergaji yang meraung, suara penghancuran yang terus mendekat.

Anda tahu, ada sesuatu yang bisa Anda lakukan untuk menghentikan gergaji mesin itu masuk lebih jauh ke dalam hutan. Anda bisa menghentikannya!”

Ancaman yang merajai wilayah ekosistem Leuser ini adalah implikasi dari adanya eksploitasi dan pembangunan yang tidak berkelanjutan. Mayoritas perusahaan besar yang ingin membuka perkebunan kelapa sawit — yang dinilai menjadi bisnis perkebunan yang paling menguntungkan di dunia — merupakan ancaman fundamental yang kompleks dan nyata untuk ekosistem Leuser.

BBC Indonesia, 2018. Deforestasi di Indonesia terjadi pada tingkat yang mengkhawatirkan, menurut para aktivis dan pakar lingkungan. [image] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46252168> [Accessed 11 March 2021].

Permasalahan kelapa sawit merupakan permasalahan klasik, komprehensif, dan multidisipliner. Sulit untuk sekadar berteriak-teriak untuk tidak membeli kelapa sawit, membeli minyak kelapa sawit yang berkelanjutan, atau memboikot produk kelapa sawit.

Adanya eksploitasi wilayah hutan untuk digusur menjadi wilayah perkebunan kelapa sawit terus dilakukan secara kontinu sebab adanya hukum pasar, yaitu permintaan dari para konsumen.

Lalu sebagai generasi muda, apa yang seharusnya kita lakukan? Saat ini kita hidup dikelilingi oleh teknologi yang mumpuni, yang membuka ruang untuk kita terus berkembang menganalisis apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Indonesia adalah sebuah negara yang masih berpikir mengenai jangka pendek — hanya terus mencari jalan pintas, tidak memiliki daya untuk menggelontorkan dana guna pembangunan teknologi berkelanjutan yang bisa melestarikan alam dan potensi kekayaan untuk masa depan anak dan cucunya.

BBC Indonesia, 2018. Penduduk lokal ekosistem Leuser mendapat penyuluhan untuk ikut serta melindungi hutan. [image] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46252168> [Accessed 11 March 2021].

Untuk itu, sebagai generasi muda yang dikelilingi oleh segala fasilitas yang ada, kita harus senantiasa memikirkan kondisi hutan yang menjadi sumber penghidupan manusia.

Kita bisa mengeksplor wilayah-wilayah alam dan merasakan sendiri efek magis kedamaiannya, kemudian memproyeksikan apabila wilayah alam ini harus dihancurkan.

Apapun milik bumi yang sudah dirusak, sulit bagi kita untuk mengembalikannya ke keadaan semula.

Gunakan juga sosial media untuk menggaungkan aksi-aksi kita terhadap eksistensi hutan dan penjagaannya. Karena suara kita berharga. Nyata. Bermakna.

Bangkitkan semangat-semangat sesama generasi muda, sebab hutan adalah bagian dari bumi, bumi adalah rumah kita, kita adalah bagian dari bumi, dan bumi ini butuh aksi!

#PukulMundurKrisisIklim

#BumiButuhAksi

REFERENSI

Amindoni, A., 2021. ‘Laki-laki tidak boleh masuk!’ — Kisah para perempuan pelestari hutan bakau di Papua — BBC News Indonesia. [online] BBC News Indonesia. Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56269816> [Accessed 11 March 2021].

Briggs, H., 2018. Kelapa sawit: Perjuangan seorang perempuan Indonesia selamatkan ‘tempat terakhir di Bumi’ — BBC News Indonesia. [online] BBC News Indonesia. Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46252168> [Accessed 11 March 2021].

Hidayatullah, 2020. Kisah para perempuan penjaga hutan Aceh: ‘Kami lebih didengar oleh para pembalak liar’ — BBC News Indonesia. [online] BBC News Indonesia. Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/majalah-55300012> [Accessed 11 March 2021].

Currently studying environmental health, but also put many interests to self-development, mental illness, also women & children issues. My opinions are mine.

Currently studying environmental health, but also put many interests to self-development, mental illness, also women & children issues. My opinions are mine.