Jatuh Cinta Lewat Kata

Gertakan sanubari kian mencemari diri ini hingga radarnya tidak bisa kutemukan lagi.

Kadang-kadang aku bertanya, memangnya untuk apa ada satu orang yang harus menjadi pilihan terakhir sekaligus termutakhir di dalam hidup kita? Bukanlah hal itu konyol? Manusia berdalih bak manusia shahih bahwa itu cara bagaimana makhluk sosial merajut kasih.

Ah, aku berdecih.

Sembilan belas tahun hidup dalam kungkungan yang kubuat sendiri berimplikasi pada cakrawala tiada batas. Aku menciptakan bayang-bayang imajiner yang bahkan tidak bisa aku wujudkan. Aku berekspektasi terlalu tinggi dan terperosok pada lubang yang aku gali seorang diri. Kadang kala aku merasa bodoh, tetapi kekuatan hormon endorfin yang diekskresikan oleh kubangan itu memberikanku energi ghaib untuk menyalakan sumbu padma dalam jiwa.

Kenormatifan keluarga dan teman-teman rasanya cukup, kadang kala diri ini membatin.

Tapi siapa sangka, bahwa kadang kala di malam-malam yang sepi, diri ini berharap bisa bertemu dengan sosok yang bisa menghidupkan kembali lentera yang mati.

Entahlah.

Lagi-lagi, rasa pesimis itu muncul.

Sejujurnya, aku enggan mengutarakan perihal perasaan. Terlalu malu untuk kutanggung di kemudian hari, begitulah cara diri ini memberikan definisi. Akan tetapi, aku rasa dunia ini akan selalu menyimpan misteri. Yang entah bagaimana (dan aku harap) akan memberikan implikasi yang bisa membuat diri ini terbunuh dari rasa sepi.

Cinta.

Kadang kala aku tidak percaya akan eksistensinya. Namun, saat ku pergi melihat pantulan diri ini di cermin, ada hati kecil yang menjerit bahwa eksistensimu hadir karena hal itu, bagaimana bisa kamu menampiknya?

Aku membiarkan ruang itu terbakar habis setelah aku menemukan sinar baru dalam hidupku. Musnah bagai abu kayu yang lenyap seiring dengan berjalannya waktu. Aku merasa, cinta dan realita adalah bingkisan haram Tuhan yang tidak bisa aku miliki keduanya. Tidak ada hidup yang sesempurna itu, bukan? Pertanyaan itu selalu membelenggu.

Tertawa bukan elemen fundamental yang menjadi penyusun diri ini. Namun, air wajahku selalu menghujamkan cakra kebenaran. Aku sangat jujur terhadap apa yang aku rasa dan aku damba. Jika ya, maka ya. Jika tidak, selembut apapun situasinya, tetap akan menjadi tidak. Didikan ibuku yang membentukku agar selalu memilih hitam atau putih, tidak berada di dalam kegamangan abu-abu.

Hm, tapi siapa sangka, bahwa diam-diam, tanpa ada seorang pun yang tahu, aku mahir berpura-pura. Entah sejak kapan, kejujuran akan perasaan hanya kuutarakan kepada diri ini yang juga dipenuhi oleh pertanyaan. Aku jatuh, kubangkitkan diriku sendiri. Aku lelah, kuistirahatkan diriku sendiri. Aku bingung, kupuaskan dahaga kebodohan itu untuk dirku sendiri.

Kubeton kokoh-kokoh tembok pertahanan diri. Entah apa yang aku takutkan. Entah apa yang aku cari. Entah apa yang aku butuhkan. Entah apa maksud dari puing-puing kata yang menjadi fondasi dalam paragraf ini.

Lelah.

Entah mengapa, diri ini terlalu lelah untuk berusaha. Aku tidak mau sebab di dalam prosesnya, variabel-variabel liar adalah sanak yang harus kuhadapi. Bagaimana caranya diri yang biasa mengkoordinasi segala sesuatu secara matematis dan terperinci ini menghadapi kenyataan pahit bahwa dunia tidak seindah dongeng ibu peri?

Cinta dan realita masih menjadi problematika utama.

Namun, aku suka percakapan-percakapan yang ada di antara kita.

Kadang karena sifatmu yang tidak terlalu gemar berbicara, memberikan panggung untuk aku yang sejatinya juga tidak pernah mengisi peran itu di hadapan orang lain.

Entah bagaimana melalui kata dan aksara, kamu membius sanubari agar rehat lagi dan lagi. Terkadang itu memusingkan, tapi apa aku punya pilihan?

Mengenalmu bukan sesuatu yang baru, tapi rasanya bait-bait kalimat ini baru tersusun secara rapi akhir-akhir ini. Bagai pemutar usang, pikiran ini mulai mengulang percakapan-percakapan di siang hari tatkala aku ingin pergi ke alam mimpi. Kadang-kadang air wajahku bisa menahan ekspresi, tapi lebih sering tersenyum-senyum sendiri.

Manis.

Satu kata yang pantas kusematkan untukmu.

Aku berharap bahwa seiring berjalannya waktu, memang kamu si orang itu. Yang bisa menjadi solusi dari rumusan masalah dalam kasus ini. Yang bisa kupercaya, yang benar-benar kudamba. Yang menyalakan lentera dan padma, yang membunuh sepi dan sunyi. Yang sederhana, tetapi bisa menyatukan cinta dan realita.

Entah dengan sentuhan dan mantra apa,

aku jatuh cinta lewat kata.

Jakarta, 13 September 2021 pukul 0:51 WIB.

As you know, it’s a draft. Just want to throw it away. :D

Currently studying environmental health, but also put many interests to self-development, mental illness, also women & children issues. My opinions are mine.

Currently studying environmental health, but also put many interests to self-development, mental illness, also women & children issues. My opinions are mine.